Jumat, 06 April 2012

BAB 1 Manajemen Keuangan


Bab 1
PENDAHULUAN

Bab ini membahas kondisi manajemen keuangan dalam organisasi perusahaan secara kualitatif. Selain itu juga memberikan pengantar mengenai konsep-konsep dasar yang digunakan dalam manjemen keuangan. Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami dan menjawab pertanyaan tentang :
  1. Peranan manajemen keuangan
  2. Fungsi dan tujuan manajemen keuangan  
  3. Konsep dasar dalam penilaian
  4. Risiko dan keuntungan
Struktur modal sangat penting bagi perusahaan karena menyangkut kebijakan penggunaan sumber dana yang paling menguntungkan. Dalam mendanai kebutuhan pendanaan, perusahaan dapat menggunakan modal sendiri dan modal asing atau utang. Jika menggunakan utang maka perusahaan akan menanggung biaya tetap atau bunga. Akibatnya masalah leverage muncul karena perusahaan menggunakan asset yang menyebabkan harus membayar biaya tetap dan menggunakan utang yang menyebabkan perusahaan menanggung beban tetap.
Beberapa buku manajemen keuangan menunjukkan bahwa tujuan manajemen keuangan adalah memaksimalkan kemakmuran pemegang / pemilik saham. Hal tersebut juga berfungsi untuk memaksimalkan total nilai pasar dari saham-saham perusahaan yang menjadi sasaran perusahaan. Namun pada saat itu tujuan perusahaan belum memasukkan ketidakpastian. Pemilihan tujuan tersebut disebabkan oleh pengaruh dari semua keputusan keuangan yang mengandung ketidakpastian atau adanya risiko usaha sehingga pada materi berikutnya sudah mulai memasukkan risiko.
A.  Deskripsi Manajemen Keuangan
Untuk memahami manajemen keuangan secara mendalam dan menyeluruh, maka harus dipahami ruang lingkup manajemen keuangan terlebih dahulu. Secara garis besar ruang lingkup manajemen keuangan meliputi keputusan-keputusan dibidang investasi, pembelanjaan, dan kebijakan dividen. Dengan memahami ruang lingkup manajemen keuangan tersebut secara mendalam akan diketahui latarbelakang perlunya manajemen keuangan dalam perusahaan.
Manajemen keuangan dapat diartikan sebagai manajemen dana, baik yang berkaitan dengan pengalokasian dana dalam berbagai bentuk investasi secara efektif, pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi secara efisien dan pengelolaan aktiva dengan tujuan menyeluruh. Manajemen keuangan merupakan bagian dari seni manajemen umum yang menitikberatkan pada fungsi keuangan perusahaan. Sebagai bagian dari manajemen umum, penerapan manajemen keuangan tidak berdiri sendiri melainkan saling berkaitan dengan disiplin ilmu lain seperti manajemen pemasaran, manajemen produksi, akuntansi, ekonomi mikro, ekonomi makro, metode kuantitatif.
Hampir sebagian besar usaha, baik yang berskala besar maupun kecil, baik yang mempunyai motif profit maupun non profit akan mempunyai perhatian besar dibidang keuangan. Demikian juga dengan usaha pemerintah dalam melaksanakan otonomi daerah saat ini. Keberhasilan maupun kegagalan usaha hampir sebagian besar ditentukan oleh kualitas keputusan keuangan, baik yang menyangkut investasi, pembelanjaan, maupun kebijakan dividen sehingga dapat dikatakan bahwa setiap masalah yang timbul didalam perusahaan akan berimplikasi pada bidang keuangan. Masalah-masalah tersebut biasanya berkaitan dengan beberapa hal  berikut :
1.       Kemana dana-dana yang dimiliki akan diinvestasikan ?
2.       Apakah investasi tersebut cukup profitable ?
3.       Darimana investasi tersebut akan dibiayai ?
4.       Bagaimana volume minimum harus diusahakan ?
5.       Seberapa uang kas yang harus tersedia untuk mempertahankan kontinuitas usaha ?
6.       Berapa besar persediaan yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak kehabisan stok ?
7.       Bagaimana sistem penjualan yang akan dilakukan perusahaan ?
8.       Apakah laba yang diperoleh harus dibagikan sebagai dividen atau diinvestasikan kembali ?
9.       Bagaimana keseimbangan antara risiko dan tingkat keuntungan yang optimal ?





B.  Fungsi Manajemen Keuangan
Tujuan manajemen keuangan sebenarnya tercermin dari kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh manajemen keuangan. Dalam hal ini kegiatan manajemen keuangan terbatas pada kegiatan terhadap pengelolaan keuangan perusahaan yang meliputi perencanaan sumber keuangan ( pembelanjaan ), perencanaan alokasi keuangan ( investasi ), serta penentuan struktur aktiva ( kekayaan ), keuangan, dan modal perusahaan. Dengan demikian maka tugas pokok manajemen keuangan adalah merencanakan perolehan dan penggunaan dana tersebut untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Sedangkan fungsi pembuatan keputusan dari manajemen keuangan dapat dibagi menjadi tiga area utama yaitu (1) keputusan investasi atau penggunaan dana, (2) keputusan pendanaan atau mendapatkan dana, dan (3) keputusan manajemen aktiva termasuk mengatur pembagian keuntungan.
C.  Tujuan Manajemen Keuangan
Istilah memaksimalkan profit pada dasarnya hanya merupakan tujuan jangka pendek karena hanya meliputi satu periode atau untuk periode tertentu. Dalam analisis multiperiode profit merupakan konsep arus, ketika para pengusaha ingin memaksimalkan arus profitnya pada seluruh periode yang bersifat independent dan homogen. Dalam keadaan demikian tujuan memaksimalkan profit jangka pendek mengarah kepada memaksimalkan profit jangka panjang. Artinya jika profit itu selalu meningkat pada setiap tahun, maka nilai perusahaan juga akan meningkat. Apabila perolehan profit itu tidak menentu, pada beberapa tahun profit itu naik tetapi pada tahun selanjut nya profit itu justru menurun maka kedua tujuan itu tidak ekuivalen.
D.  Tujuan Perusahaan
Dalam mengukur manajemen keuangan yang efisien membutuhkan pengukuran yang dapat digunakan sebagai penilaian efisiensi manajemen keuangan sehingga manajemen keuangan membutuhkan tujuan dan sasaran sebagai standar pengukurannya. Kesejahteraan pemegang saham ditunjukkan melalui harga pasar perlembar saham perusahaan yang juga merupakan refleksi dari keputusan investasi, pendanaan, dan manajemen aktiva. Berikut ini tujuan perusahaan menurut James C. Van Horne dan John M. Wachowicz :
  1. Tujuan utama perusahaan adalah untuk meningkatkan nilai pemegang saham sepanjang waktu.
  2. Tujuan utama perusahaan adalah untuk memberikan penghargaan kepada pengambil risiko dengan membangun kesejahteraan jangka panjang bagi pemegang saham.
  3. Tujuan utama manajemen adalah memaksimalkan nilai pemegang saham seiring berjalannya waktu.
E.  Maksimalisasi Laba vs Penciptaan Nilai Perusahaan
Maksimalisasi laba merupakan maksimalisasi penghasilan perusahaan setelah pajak. Maksimalisasi laba sering dianggap sebagai tujuan perusahaan. Tujuan tersebut dapat dicapai hanya dengan jalan penerbitan saham dan penginvestasian keuntungannya dalam surat-surat utang jangka pendek. Hal itu dapat berakibat pada penurunan pembagian keuntungan pemilik perusahaan yaitu menurunnya laba perlembar saham. Dengan demikian maksimalisasi laba perlembar saham sering dianggap sebagai versi yang lebih baik daripada maksimalisasi laba.
Bagaimanapun juga maksimalisasi laba perlembar saham bukan tujuan yang paling tepat. Ada beberapa alasan mengenai pendapatan tersebut antara lain :
  1. Tidak mencantumkan waktu dan jangka waktu dari pendapatan yang diharapkan
  2. Tidak memperhitungkan risiko
  3. Tidak memungkinkan adanya dampak dari kebijakan dividen pada harga pasar saham
Dari alasan-alasan tersebut tujuan maksimalisasi laba perlembar saham tidak akan sama dengan maksimalisasi harga perlembar saham. Harga pasar saham menunjukkan penilaian sentral dari seluruh pelaku pasar dan terhadap nilai perusahaan tersebut. Demikian juga dengan nilai laba perlembar saham, waktu, durasi dan risiko pendapatan-pendapatan saat ini dan pada masa mendatang kebijakan dividen perusahaan dan faktor-faktor lain yang menunjukkan harga pasar saham. Harga pasar saham bertindak sebagai barometer kinerja manajemen perusahaan sekaligus menunjukkan seberapa baik manajemen menjalankan tugasnya atas nama para pemegang saham. Manajemen selalu ada dalam pengawasan para pemegang saham, jika para pemegang saham yang tidak puas dengan kinerja manajemen maka mereka dapat menjual saham yang mereka miliki dan menginvestasikan uangnya di perusahaan lain yang lebih prospektif. Jika tindakan-tindakan tersebut dilakukan oleh para pemegang saham maka akan dapat menurunkan harga saham di pasar.





F.  Tugas Manajemen vs Pemilik
Tugas manajemen kemungkinan berbeda dari tujuan pemegang saham, apalagi pada perusahaan yang sudah go public yakni ketika pemegang sahamnya sangat banyak sehingga mereka tidak dapat menyuarakan tujuannya secara individu. Pemisahan kepemilikan dengan manajemen akan dapat menciptakan situasi ketika pihak manajemen bertindak untuk kepentingan mereka sendiri dan bukan kepentingan pemegang saham.
Didalam menjalankan operasi perusahaan diharapkan manajemen bertindak berdasarkan kepentingan pemegang saham sehingga manajemen diberi wewenang untuk mengambil keputusan. Manajemen dianggap sebagai agen pemilik perusahaan, dan sebagai agen manajemen diberi wewenang oleh pemegang saham ( pemilik ) untuk bertindak atas nama pemegang saham. 
G.  Keputusan Keuangan
Agar tujuan perusahaan untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham dapat tercapai, maka perlu diambil berbagai keputusan keuangan ( financial decision ) yang relevan dan mempunyai pengaruh bagi peningkatan nilai perusahaan. Keputusan-keputusan keuangan itu terdiri atas :
1.       Keputusan Investasi
Investasi merupakan suatu tindakan melepaskan dana saat ini dengan harapan dapat menghasilkan arus dana pada masa datang yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah dana yang dilepaskan pada saat investasi awal ( initial investment ). Pada waktu mulai berpikir untuk melakukan investasi maka terdapat tiga kemungkinan kondisi yang tergantung kepada jenis investasi yang sedang dipikirkan. Kondisi pertama apabila sedang memikirkan kemungkinan untuk melakukan investasi secara nyata ( real investment ) misalnya alternatif investasi yang berupa proyek-proyek perkebunan, perikanan, poertambangan, real estate, pabrik-pabrik pengolahan, perkapalan dan sebaginya. Kondisi kedua apabila penggunaan dana bukan untuk membeli aktiva nyata, tetapi digunakan unutk membeli aktiva keuangan ( financial asset ) seperti saham ataupun obligasi maka sangat riskan apabila meminjam dana dari luar untuk sekedar melakukan investasi dibidang pembelian surat-surat berharga. Kondisi ketiga apabila sedang memikirkan tentang bagaimana struktur aktiva yang baik karena keputusan investasi menyangkut berapa alokasi dana ( allocation of  funds ) bagi pembelian aktiva nyata dan pembelian aktiva keuangan.
2.       Keputusan Pendanaan
Pada dasarnya pendanaan dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai sumber dana ( source of funds ) baik yang berasal dari luar maupun dari dalam perusahaan. Pendanaan yang menggunakan dana yang berasal dari luar perusahaan disebut pendanaan ekstern ( external financing ), misalnya berasal dari calon pemegang saham baru dan calon kreditor. Sedangkan dana yang berasal dari dalam perusahaan bias berasal dari laba ditahan atau berbagai cadangan seperti cadangan penyusutan. Pendanaan yang menggunakan dana yang berasal dari dalam perusahaan disebut pendanaan intern ( internal financing ). Seluruh dana yang digunakan tersebut akan membentuk modal dan semuanya tersalur ke dalam modal pinjaman ( debt capital ) misalnya utang jangka pendek ( short term debt ) dan modal sendiri ( equity capital ) misalnya modal saham dan laba ditahan.
3.       Keputusan Dividen
Dividen adalah bagian dari laba bersih ( Retaining Earning/ER ) atau laba setelah pajak ( Earning After Tax/EAT ) yang dibagikan kepada para pemegang saham. Dengan demikian keputusan dividen menyangkut berapa pertimbangan antara laba ditahan dengan dividen. Keputusan itu perlu ditetapkan seoptimal mungkin karena perilaku pemegang saham ada yang menyukai dividen tetapi ada juga yang mengharapkan pertumbuhan yang berasal dari penginvestasian kembali laba ditahan didalam perusahaan.
H.  Konsep Dasar Dalam Penilaian
Pengambilan keputusan keuangan perusahaan selalu didasarkan pada perbandingan nilai. Misalnya keputusan untuk menerbitkan obligasi ataupun saham yang digunakan untuk membiayai suatu investasi juga tergantung kepada metode pembelanjaan yang akan menaikkan nilai modal sendiri yang dimiliki oleh pemegang saham saat ini. Penilaian tersebut merupakan proses dalam melakukan penaksiran terhadap nilai pasar suatu aktiva dan surat berharga dalam perusahaan.


Ada tiga faktor yang mempengaruhi nilai pasar yakni cash flow masa datang, jangka waktu timbulnya cash flow tersebut, dan tingkat pengganda ( discount rate ) yang digunakan untuk menilai cash flow masa datang tersebut kembali pada masa sekarang ( present value / PV ). Secara rasional para investor individual menilai uang tunai Rp 1,00 sekarang lebih besar daripada nilai uang tunai Rp 1,00 pada waktu yang akan datang. Hal itu timbul sebagai akibat dari bunga uang dan konsep opportunity cost. Misalnya sekarang ada uang sebanyak Rp 1 milyar, jika uang itu digunakan untuk membuka suatu usaha maka dalam keadaan normal dalam 1 tahun usaha tersebut ( diharapkan ) akan menghasilkan laba bersih sebesar Rp 0,1 milyar. Akan tetapi seandainya uang itu kita pinjamkan kepada orang lain maka wajar apabila meminta jasa berupa bunga dari uang tersebut sebesar 10% setahun dari peminjam sehingga timbul konsep bunga uang. Atas dasar konsep pemikiran tersebut apabila menyimpan uang sebanyak Rp 100,00 di bank dengan memperoleh bunga 10% pertahun maka pada akhir tahun pertama jumlah uang di bank tersebut sebesar :
Rp 100,00 + 10%(Rp 100,00) = Rp 110,00
Dengan demikian muncul berbagai konsep yang dapat dikembangkan mengenai penilaian uang dengan memperhatikan perbedaan waktu sebagai titk tolak dalam segala analisa keuangan baik yang menyangkut analisis investasi maupun pendanaan. Berbagai implikasi konsep nilai waktu uang akan dipaparkan berikut ini.
  1. Nilai Majemuk
Nilai majemuk ( compound value ) dari sejumlah uang merupakan nilai akhir ( ending  value ) uang itu setelah diperhitungkan bunganya. Apabila jumlah uang tersebut sebesar X Dimana :
X        = jumlah uang pada tahun ke-0 atau awal tahun pertama
X        = jumlah uang padaakhir tahun ke-1
X       = jumlah uang pada akhir tahun ke-2 dan seterusnya
i           = tingkat bunga
berarti :
X        = X + i X
            = X( 1+i )
X       = X + i X
            = X ( 1+i )
            = X ( 1+i ) ( 1+i )
            = X ( 1+i )
Contoh :
Apabila nasabah menabung di bank sebanyak Rp1.000,00 dengan memperoleh bunga 5% pertahun selama 5 tahun, maka pada akhir tahun ke-5 uang tersebut akan kembali bersama pendapatan bunganya sebanyak Rp 1.276,00. Adapun proses penghitungannya sebagai berikut :
X        = Rp 1.000,00 ( 1+0,05 ) = Rp 1.050,00
X       = Rp 1.000,00 ( 1+0,05 ) = Rp 1.000,00 ( 1+0,05 ) = Rp 1.102,00
X        = Rp 1.102,00 ( 1+0,05 ) = Rp 1.000,00 ( 1+0,05 ) = Rp 1.158,00
X       = Rp 1.158,00 ( 1+0,05 ) = Rp 1.000,00 ( 1+0,05 ) = Rp 1.216,00
X        = Rp 1.216,00 ( 1+0,05 ) = Rp 1.000,00 ( 1+0,05 ) = Rp 1.276,00
  1. Nilai Sekarang
Konsep nilai sekarang ( present value ) adalah lawan dari nilai majemuk. Apabila yang dihitung dalam nilai majemuk adalah X setelah X, i dan t diketahui, maka yang dihitung dalam nilai tunai itu adalah X setelah X, i dan t diketahui.
Artinya apabila dalam nilai majemuk nilai X adalah :
X = X( 1+i )
Maka present value ( PV ) dihitung sebagai berikut :
X = = X
Dimana :
i               = tingkat bunga ( interest rate )
X            = nilai tunai / present value ( PV )
X            = nilai majemuk / compound value ( CV )
= faktor pengganda / discount factor ( df ) / present value interest factor (PVIF)
Contoh :
Pada akhir tahun ke-5 nasabah akan menerima uang sebanyak Rp 6.000,00. Berapakah PV uang itu sekarang apabila discount factor-nya 7% ?
X = X  = Rp 6.000,00 x 0,7139 = Rp 4.278,00


Mengapa demikian ? bila nasabah membungakan uang sebesar Rp 4.278,00 dengan tingkat bunga 7% setahun, maka akhir tahun ke-5 uang tersebut akan menjadi                Rp 6.000,00 dengan bukti perhitungan sebagai berikut :
X = Rp 4.278,00 ( 1+0,07 ) = Rp 6.000,00
  1. Nilai Majemuk dari Anuitas
Nilai majemuk dari anuitas merupakan nilai majemuk dari arus dana yang terjadi secara serial setiap tahun dalam jumlah tetap. Masing-masing setoran yang dilakukan harus dibunga majemukkan sampai pada periode t., apabila setoran yang dilakukan setiap tahun sebesar R maka compound value of annuity ( CVA ) adalah :
CVA =  R
             Contoh :
Nasabah akan menerima uang sebanyak Rp 2.000,00 setiap akhir tahun selama 2 tahun. Setiap kali menerima uang tunai nasabah langsung menabungkan uang tersebut ke bank dengan bunga hanya 10% pertahun. Dengan demi8kian jumlah uang nasabah pada akhir tahun ke-3 adalah :
CVA =  Rp 2.000,00
        =  Rp 2.000,00

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar